Tidak
dapat dipungkiri bahwa perkembangan teknologi, informasi dan komunikasi yang
kian pesat seperti di era sekarang ini telah membawa pengaruh besar terhadap
perkembangan manusia pada umumnya dan lebih khusus pada masyarakat yang tingal
di pedesaan. Perkembangan teknologi ini ditandai dengan munculnya berbagai
macam alat modern, mulai dari alat-alat dengan kualitas standar sampai kepada
alat yang memliki kualitas super canggih. Perkembangan ini kemudian membawa
pengaruh besar pula terhadap keadaan masyarakat desa baik dari segi sosial,
budaya, ekonomi, politik, bahkan kepribadian masyarakat pun ikut berubah. Hal
ini ditandai dengan digunakannya alat-alat elektronik di kalangan muda khususnya,
selain untuk keperluan memberi dan mendapatkan informasi, juga digunakan untuk
hal-hal yang tidak memberikan manfaat seperti menonton video porno secara mobile juga mengirim pesan-pesan
yang bersifat provokatif.
Begitu
besarnya pengaruh teknologi ini, menjalarlah hingga sampai ke masyarakat desa.
Masyarakat desa yang umumnya kita kenal dengan masyarakat yang terpinggirkan, kampungan,
dan SDM rendah, kini pun ikut menerima dan mewarnai perkembangan teknologi
seperti yang dirasakan masyarakat perkotaan. Jika kita menilik kembali bahwa
sebetulnya sebagian besar masyarakat desa adalah masyarakat yang hidup
harmonis, rukun, tentram dan memiliki tata krama yang lebih baik dari
masyarakat perkotaan meskipun ada beberapa permasalahan yang terjadi. Mereka
hidup saling membantu satu sama lain. Dan budaya yang tidak pernah luntur dari
masyarakat desa adalah budaya saling gotong royong antarsesama jika ada yang
kesusahan. Itulah hal yang jarang dilihat pada masyarakat perkotaan. Namun,
dengan perkembangan teknologi yang kian pesat sekarang ini, budaya gotong
royong ini semakin samar dilakukan kembali oleh masyarakat desa. Mereka yang
dulunya bergotong royong memanen padi secara berkelompok misalnya, sekarang
kita sudah jarang melihat kebersamaan itu. Hal ini dikarenakan masuknya
alat-alat yang berteknologi canggih dan ditambah dengan sosialisasi tentang
penggunaan alat-alat tersebut sehingga dengan mudahnya pekerjaan yang
semestinya dilakukan secara bergotong royong, sekarang mereka kerjakan sendiri
dan mereka menganggap bahwa mereka akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar
karena tidak perlu memborong pekerja dan menyewanya sehingga keuntungan yang
didapatkan harus dibagi-bagi.
Dari
sektor pertanian, jika dilihat dari segi ekonomi memang ini menjadi sebuah
keuntungan bagi pemilik sawah, namun di sisi lain mereka sesungguhnya telah
melupakan budaya yang telah lama diturunkan oleh nenek moyang yang seharusnya
dijaga dan dilestarikan yakni budaya
gotong royong.
Dari
dampak ini, muncullah apa yang dinamakan kesenjangan sosial. Kesenjangan ini
terjadi karena masyarakat sudah jarang berinteraksi dan berkomunikasi seperti
biasanya dengan masyarakat lain. Hadirnya televisi membuat masyarakat jarang
bertemu di pos ronda, kehadiran sepeda motor membuat masyarakat jarang berjalan
kaki bersama ke sawah atau pun ladang, kehadiran telepon genggam membuat
masyarakat jarang bertatap muka saat berbicara. Inilah contoh dari pengaruhnya
perkembangan teknologi yang semakin hari semakin membumi seperti sekarang ini.
Dari sini dapat dikatakan bahwa perlu adanya
penyaring yang baik dari penerimaan masyarakat terhadap perkembangan teknologi
ini. Memang diakui bahwa perkembangan teknologi dapat merubah keadaan suatu
masyarakat, namun tidak menutup kemungkinan juga bagi masyarakat untuk menolak
masuknya perkembangan teknologi dengan melihat berbagai aspek seperti kehancuran
budaya, misalnya. Jika sudah demikian, maka dampak atau pengaruh yang mungkin
terjadi dapat diminimalkan oleh masyarakat sendiri. Diawali dengan sebuah
sosialisasi dan pemberian informasi serta komunikasi yang tepat memungkinkan
masyarakat desa untuk menerima perkembangan teknologi secara tepat pula dengan
tetap melestarikan budaya yang telah ada.