Kamis, 01 Desember 2011

Pengaruh teknologi terhadap budaya gotong royong masyarakat desa


Tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan teknologi, informasi dan komunikasi yang kian pesat seperti di era sekarang ini telah membawa pengaruh besar terhadap perkembangan manusia pada umumnya dan lebih khusus pada masyarakat yang tingal di pedesaan. Perkembangan teknologi ini ditandai dengan munculnya berbagai macam alat modern, mulai dari alat-alat dengan kualitas standar sampai kepada alat yang memliki kualitas super canggih. Perkembangan ini kemudian membawa pengaruh besar pula terhadap keadaan masyarakat desa baik dari segi sosial, budaya, ekonomi, politik, bahkan kepribadian masyarakat pun ikut berubah. Hal ini ditandai dengan digunakannya alat-alat elektronik di kalangan muda khususnya, selain untuk keperluan memberi dan mendapatkan informasi, juga digunakan untuk hal-hal yang tidak memberikan manfaat seperti menonton video  porno secara mobile juga mengirim pesan-pesan yang bersifat provokatif.
Begitu besarnya pengaruh teknologi ini, menjalarlah hingga sampai ke masyarakat desa. Masyarakat desa yang umumnya kita kenal dengan masyarakat yang terpinggirkan, kampungan, dan SDM rendah, kini pun ikut menerima dan mewarnai perkembangan teknologi seperti yang dirasakan masyarakat perkotaan. Jika kita menilik kembali bahwa sebetulnya sebagian besar masyarakat desa adalah masyarakat yang hidup harmonis, rukun, tentram dan memiliki tata krama yang lebih baik dari masyarakat perkotaan meskipun ada beberapa permasalahan yang terjadi. Mereka hidup saling membantu satu sama lain. Dan budaya yang tidak pernah luntur dari masyarakat desa adalah budaya saling gotong royong antarsesama jika ada yang kesusahan. Itulah hal yang jarang dilihat pada masyarakat perkotaan. Namun, dengan perkembangan teknologi yang kian pesat sekarang ini, budaya gotong royong ini semakin samar dilakukan kembali oleh masyarakat desa. Mereka yang dulunya bergotong royong memanen padi secara berkelompok misalnya, sekarang kita sudah jarang melihat kebersamaan itu. Hal ini dikarenakan masuknya alat-alat yang berteknologi canggih dan ditambah dengan sosialisasi tentang penggunaan alat-alat tersebut sehingga dengan mudahnya pekerjaan yang semestinya dilakukan secara bergotong royong, sekarang mereka kerjakan sendiri dan mereka menganggap bahwa mereka akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar karena tidak perlu memborong pekerja dan menyewanya sehingga keuntungan yang didapatkan harus dibagi-bagi.
Dari sektor pertanian, jika dilihat dari segi ekonomi memang ini menjadi sebuah keuntungan bagi pemilik sawah, namun di sisi lain mereka sesungguhnya telah melupakan budaya yang telah lama diturunkan oleh nenek moyang yang seharusnya dijaga dan dilestarikan  yakni budaya gotong royong.
Dari dampak ini, muncullah apa yang dinamakan kesenjangan sosial. Kesenjangan ini terjadi karena masyarakat sudah jarang berinteraksi dan berkomunikasi seperti biasanya dengan masyarakat lain. Hadirnya televisi membuat masyarakat jarang bertemu di pos ronda, kehadiran sepeda motor membuat masyarakat jarang berjalan kaki bersama ke sawah atau pun ladang, kehadiran telepon genggam membuat masyarakat jarang bertatap muka saat berbicara. Inilah contoh dari pengaruhnya perkembangan teknologi yang semakin hari semakin membumi seperti sekarang ini.
Dari sini dapat dikatakan bahwa perlu adanya penyaring yang baik dari penerimaan masyarakat terhadap perkembangan teknologi ini. Memang diakui bahwa perkembangan teknologi dapat merubah keadaan suatu masyarakat, namun tidak menutup kemungkinan juga bagi masyarakat untuk menolak masuknya perkembangan teknologi dengan melihat berbagai aspek seperti kehancuran budaya, misalnya. Jika sudah demikian, maka dampak atau pengaruh yang mungkin terjadi dapat diminimalkan oleh masyarakat sendiri. Diawali dengan sebuah sosialisasi dan pemberian informasi serta komunikasi yang tepat memungkinkan masyarakat desa untuk menerima perkembangan teknologi secara tepat pula dengan tetap melestarikan budaya yang telah ada.

SI KECIL YANG MEMBAWA KEHANCURAN


Siang yang begitu panas membuat hati dan perasaan Tuty semakin gelisah. Seakan-akan ia tidak percaya atas kejadian yang baru saja ia alami. Pikirannya kacau dan hatinya galau. Ia merasa Tuhan tidak adil terhadapatnya.
Semua kejadian itu berawal dari sebuah pesan singkat yang masuk ke Hp Budi suaminya. Pesan itu berasal dari nomor yang tidak dikenal. Tanpa sepengetahuan Tuty pesan itu direspon oleh suaminya. Ternyata pesan itu berasal dari seirang perempuan. Komunikasi itu terus berlanjut dan mereka sering bertemu dan semakin akrab. Seiring berjalannya waktu muncullah perasaan yang seharusnya tidak boleh ia berikan untuk perempuan lain kecuali Tuty istrinya. Perasaan Budi oleh perempuan tersebut maka terciptalah hubungan terlarang.
Hubungan terlarang itu membawa dampak negatif pada sikap Budi. Ia mulai bersikap kasar, pulangnya selalu larut malam, kadang-kadang tidak pulang. Jika ditanya selalu dijawab dengan alasan kerjaan kantor.
Semakin hari perubahan sikap budi semakin tidak wajar. Keadaan ini membuat Tuty semakin curiga. Akhirnya, Tuty memberanikan diri untuk bertanya lagi, “Budi, semakin lama, saya merasa kamu semakin berubah. Sepertinya ada yang beda di diri kamu.”
“Apa sih yang beda?” Budi menjawab sambil membolak-balikkan buku yang dibacanya. “Saya merasa dari dulu sampai sekarang saya begini saja, tidak ada yang berubah.” Lanjut Budi.
“Tapi,....” Tuty berhenti berbicara, karena Budi berdiri dan membanting buku, seraya berkata, “Kamu.... kenapa sih ngotot sekali mengatakan kalau saya berubah? Sebenarnya apa maunya kamu? Apa kamu meragukan kesetiaan saya?” Budi pun pergi begitu saja meninggalkan Tuty.
Tuty hanya bisa menangis melihat kelakuan suaminya. Ia kembali berusaha berpikir positif tentang suaminya dan membuang-buang jauh kecurigaannya tersebut. Perasaan cinta dan kepercayaannya begitu besar pada suaminya.
Setelah kejadian itu, sikap Budi tidak pernah berubah. Sikapnya pun semakin kasar bahkan ia mulai ringan tangan. Sepandai-pandai tupai melompat pasti akan jatuh juga. Sepandai-pandainya kita menyimpan bangkai pasti akan tercium juga. Dua istrilah ini cocok diamanaatkan untuk Budi. Suatu malam ketika Budi sedang mandi, tiba-tiba Hpnya berdering. Ternyata, ada pesan yang masuk. Tanpa sengaja, Tuty membukanya. Pesan itu berisi kata-kata mesra yang berasal dari perempuan selingkuhan Budi. Melihat itu semua, perasaan Tuty benar-benar hancur. Tanpa terasa kristal-kristal bening mulai berjatuhan dari kedua bola matanya, mengalir melalui pipinya yang sudah memerah. Ia berteriak sangat keras memanggil-manggil nama Budi.
“Budi.... Budi.... Budi....”
“Ada apa?” Budi berlari mendekati Tuty.
“Kamu ternyata sudah mengkhianati saya, tega-teganya kamu berbuat demikian. Salah saya apa? Apa yang kurang dari saya?” Tuty terus menangis meminta penjelasan Budi.
“Apa yang kamu bicarakan, saya tidak mengerti?”
“Ini.... ini SMS dari siapa? Maksudnya apa?” sambil menunjukkan SMS.
Budi hanya terdiam dan tidak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya, Budi mengakui semuanya.
Setelah kejadian malam itu, Tuty berpikir untuk pindah ke rumah orangtuanya. Ia sudah tidak mau tinggal seatap berasama laki-laki yang sudah menodai cinta dan kesetiaannya. Tuty banyak mengurung diri di kamar. Tubuhnya pun semakin hari semakin kurus. Melihat keadaan anaknya yang semakin terpuruk akhirnya orangtua Tuty meminta Tuty untuk menggugat cerai Budi. Tanpa berpikir panjang Tuty pun menuruti saja perintah orangtuanya.
Sebulan lebih mengurus perceraiannya akhirnya Tuty dan Budi resmi bercerai. Tuty keluar dari ruang persidangan dengan air mata yang terus mengalir. Ia pulang dengan membawa sebongkah luka yang sulit untuk disembuhkan. Dalam hatinya ia berkata, “Andai saja benda kecil itu tidak ada, semua ini tidak akan terjadi.”